Kala Acara Topik Ketiban SMS (Sort Masage Service)
Oleh Ibn Ghifarie
Di saat malam mulai beranjak gelap dan menyelimuti dinginya udara, kucoba meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda beberapa jam. Pasalnya, temen-temen lagi kena sindrom geam bola.
Tak pelak, ngedit naskah ‘Melawan Arus; Pergulatan Pemikiran Kaum Minoritas’ pun sempat terbengkalai. Belum lagi, kawan-kawan yang lain menuntut kesediaanku untuk bersedia mengisi pelatihan jurnalistik dan pentingnya melek internet.
Kala itu, sedang asyik-asiknya medit tulisan. Sekoyong-konyong mataku mulai pudar melototi monitor, bahkan berpaling ke acara televisi. Kebetulan siaran yang aku liat ‘Topik’ Minggu Ini (SCTV). Rasanya, akan menarik materi yang akan diulas malam ini.
Memang betul, ‘Topik’ ini bertajuk ‘RI-Malayasia : Bertengkar Hingga Duni Maya’ dengan menghadirkan Narasumber; Enda Nasution, Presiden Blogger Indonesia, Karim Raslan, kolumnis asal Malaysia dan politisi Partai Amanat Nasional, Alvin Lie, Rabu (12/12).
Kebanjiran SMS (Sort Masage Service)
Tiba-tiba aku dikagetkan dengan deringan suara Handphoneku petanda ada pesan yang masuk. Tanpa basa-basi kubuka pesan singkat itu, ‘Bang Bul (Buled sapaan akrabku-red) di SCTV aya perang Blogger Malayasia versus Indonesia, tulis Dian Bendum (Bendahara Umum) LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) Bandung.
Sejurus kemudiaan pesan singkat pun terus berdatangan kepadaku ‘Mas, mohon minta tanggapannya tentang pertengkaran para Blogger Malayasia dan Indonesia? Makasih. Anonim yang tak menyebutkan namanya.
Kang, nyuhunkeun pendapatna ngenaan ribut Blogger Indonesia sareng Malayasia soal Reog Ponorogo, Rasa Sayange. Cing kumaha saur Akang, SMS (Sort Masage Service ) kawanku.
Ayo gimana tanggapanya tentang keributan di dunia maya (blogger Indonesia dan Malayasia)? Ditunggu balasanya ya?, rekanku yang lainya.
Di Mata Serdadu Blogger
Tak ayal, ucapan permohonan tanggapan itu menghentakan perasaanku. Betapa tidak, aku mulai tak mengupdate Blogku karena asyik belajar ngedit naskah dan satu lain hal. Apalagi pascapemutusan koneksi web.idku oleh Pandi (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia), sebab belum diperpanjang.
Memang ku akui, beberapa tahun ini aku mulai akrab dengan dunia blog. Hingga beberapa kawanku memberikan julukan ‘bloggger yang handal’. Jujur saja, aku masih belum menguasai media online ini, tapi keukeuh peuteukeuh rekan-rekanku memanggil sebutan itu. Entah karena pernah mengelola beberapa blog atau bertukar pengalaman soal weblog.
Adalah berjubelnya pesan singkat soal perseteruan para Blogger antara Indonesia dan Malayasia merupakan satu bukti kepercayaan sahabat-sahabatku soal dunia cyber. Terutama berkenaan dengan blog.
Tak disangka-sangka, Oval aktivis jarIK (Jaringan Islam Kampus) Bandung yang berada disampingku mengawali pembicaraanya dengan melontarkan pertanyaan ‘Wah…gimana tanggapanya menurut Serdadu Blogger (Pegiat sekaligus Bloggermania--red) soal perseteruan antara para Blogger Indonesia dan Malayasia,’ cetusnya.
Tentu tak ada jawaban dariku, selain kata ‘Tinggali wae acara ieu’ pan aya Presiden Blogger Indonesia,’
Menanggapi hal ini, Presiden Blogger Indonesia Enda Nasution menilai perang blog ini tak perlu terjadi. "Situs http://www.ihateindon.blogspot.com/sudah melanggar term condition penyedia layanan blog," ujar Enda.
Menurut Karim Raslan, kolumnis asal Malaysia, salah satu penyebab meruncingnya hubungan Indonesia-Malaysia adalah banyaknya warga Indonesia yang datang ke Malaysia. "Ini menjadi masalah sosial buat Malaysia," ungkap Karim.
Benarkah ketidakharmonisan kedua negara serumpun ini adalah kelanjutan sejarah atas konflik yang selalu mewarnai hubungan kedua negara? Mulai dari era Sukarno hingga saling klaim hak cipta ? (Liputan 6 SCTV)
Stop Peperangan Antar Blogger
Maraknya situs yang dibuat oleh para blogger Malaysia. Isinya, kecaman dan hujatan atas Indonesia. Sebaliknya, sejumlah blogger asal Indonesia juga menumpahkan kemarahan yang sama.
Sejatinya kita kudu mengamini pernyataan Enda Nasution, seharusnya kita tidak membalas kebencian dengan kebencian, tapi menjembatani keduanya, demikianlah harapan Presiden Blogger Indonesia saat menutup perbincangan ‘Topik’ tersebut.
Malam mulai merayap. Suara jangkrik pun ikut memiahkan malam. Rasa ngantuk tak kunjung datang. Malah asyik membaca SMS sekaligus membuat coretan sambil berucap ‘Stop Peperangan Antar Blogger’’. Semoga hubungan Indonesia-Malayasia semakin harmonis, buka anarkis. Hidup Blogger [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 13/12/00;14.16 wib
*Penulis Mahasiswa Studi Agama-Agama Fakultas Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung dan Koord Pots LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) Bandung
Sunday, December 16, 2007
Indon VS Melayu
Posted by
Abang
at
7:57 AM
0
comments
Labels: Kisruh Para Blogger
Saturday, November 10, 2007
Makna Al-Qur'an
I'jaz Al-Quran
Shubhan AL-Munawwar
MemperingatiNuzulul Quran 1428 H
Sebagai sebuah kitab suci yang menuntut keyakinan dari penganutnya, kewahyuan al-Qur’an selalu diuji akan kebenarannya. Dalam sejarah di masa sahabat sendiri terjadi seorang yang bernama Musailamah al-Kadzab mencoba membuat ayat-ayat untuk menantang ketinggian bahasa al-Qur’an dari sisi sastranya.
Susunan yang dibuat oleh Musailamah ini telah banyak mendapat tantangan dan cemoohan bagi bangsa Arab, baik mereka yang mengerti maupun yang tidak mengerti sastra, baik susunan bahasanya yang janggal maupun isi dan maknanya yang dangkal, sehingga tidak dapat menarik simpati dari bangsa dan golongannya sendiri. Seiring dengan perkembangan zaman, tantangan akan kebenaran wahyu al-Qur’an bukan hanya pada sisi bahasa, makna dan sastra.
Kecanggihan super teknologi hasil kemajuan sains pun sepertinya masih penasaran dengan kemu’jizatan al-Qur’an, wahyu yang diterima Nabi melalui perantara Jibril ini. Al-Qur'an bukanlah kitab ilmu pengetahuan alam, arsitek, iptek, atau fisika. Tapi al-Qur'an adalah kitab petunjuk atau pembimbing untuk pembaharuan dan perbaikan.
Namun demikian ayat¬-ayatnya tidak terlepas dari isyarat-isyarat tentang masalah-masalah alam semesta, kedokteran, geografi, geologi, biologi, dan yang lainnya yang semuanya menunjukan kemu'jizatan al-Qur'an dan kedudukan dari wahyu Allah Swt. Itulah yang kemudian Menurut Mahmud Ibn Alwi al-Maliki dalam kitab al-Zubdat al-Itqan al-Qur’an sebagai mu'jizat karena manusia telah dikalahkan sehingga tidak mampu untuk mendatangkan yang sama dengannya.
A. PENDAHULUAN
Dari tahun ke tahun bahkan telah lima belas abad lamanya. Al-Qur'an sanggup menjawab tantangan zaman hal ini diasumsikan oleh karma A1-Qur'an sendiri sebagai sumber pengetahuan yang ditulis dengan indah dan gaya bahasa yang tinggi tanpa terukur dan tanpa batas (Ahmad Mahmud Soliman, 1985:43). Al-Qur'an sendiri memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat, salah satu diantaranya adalah bahwa isi merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah dan is adalah kitab yang selalu dipelihara (Quraish Shihab, 1994: 1). Dalam Al-Qur'an sendiri Allah menegaskan, Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun, (Sesungguhnya kami yang menurunkan Al-Qur'an dan kamilah yang akan memeliharanya).
Sisi lain dari kehebatan al-Qur'an, tak pernah ada nama dan peneliti baik masa dulu atau modem yang telah berhasil meliput seluruh segi i'jaz Al-Qur'an. Akhir dari apa yang mereka pahami itu adalah bahwa mereka membahas segi-segi i'jaz Al-Qur'an yang disampaikan dalam bahasa mereka dan sejauh batas kemampuan mereka serta keilmuaan mereka.
Penulis yakin semakin maju zaman dengan penelitian yang terus menerus terhadap Al-Qur'an, maka akan semakin tampak segi-segi i'jaz yang barn vang tidak diketahui sebelumnya.
Artikel ini mencoba menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan pengertian i'jaz a-Qur'an, baik ditinjau dari aspek bahasa, makna, dan aspek sosiologis dulu dan kekinian, sehingga akan memperjelas sampai di mana kemu'jizatan al-Qur'an tersebut sebagai wahyu Ilahi.
B. MAKNA I'JAZ AL-QUR'AN
Kata diambil dari bahasa Arab. yang berarti 'melemahkan atau men jadikan tidak mampu. sedang pelakunva (yang melemahkan) dinamai mu’jiz. Kata mu'jizat ditambah to marbuthah menjadi mu'jizat, menurut Quraish Shihab, mengandung makna mubalaghah (superlatif) yakni menunjukan kemampuannya melemahkan pihak lain sangat menonjol sehingga mampu membungkam lawan, (Quraish Shihab, 1998:23) atau al-I’jaz ialah al- itsbatul a’jaz (menetapkan bahwa ia melemahkan lawannya). Al-Ajuru ialah dhiddhul al-qudaru, kebalikan dari mampu, yaitu tidak dapat melakukan sesuatu bila sudah diakui, bahwa sesuatu bersifat dengan al-i'jaz, atau melemahkan maka pastilah is mempunyai kemampuan (Kahar Masyhur, 1992:142).
Menurut Mahmud Ibn Alwi al-Maliki (t.t.:l 18) dalam kitab al-Zubdat al-Itqan dinamakan mu'jizat karena manusia telah dikalahkan sehingga tidak mampu untuk mendatangkan yang sama dengannya. Sebab mu'jizat berupa hal-hal yang bertentangan dengan kebiasaan, keluar dari batas-batas faktor yang diketahui, ia juga mengatakan mu'jizat adalah hal yang diluar kebiasaan yang disertai dengan tantangan dan tidak mampu untuk ditandingi.
Sementara itu Mana' al-Qaththon dan Jalal al-Din al-Suyuthy memberi arti mu'jizat dengan "sesuatu hal yang diluar kebiasaan sebagai penolakan terhadap para penentang". Pengertian ini juga dipertegas oleh al-Zarqani yang mengartikan mu'jizat sebagai sesuatu yang melemahkan manusia baik secara terpisah maupun berkelompok untuk mendatangkan sesuatu yang serupa dengannya, atau yang bertentangan dengan kebiasaan. karena la keluar dari batas sebab-sebab yang diketahui (Muhammad 'abd al-Azhim AI-Zarqani, t.t.:56)
C. I'JAZ AL-QUR'AN DITINJAU DARI SISI AL-QUR'AN
l. Aspek I'jaz AI-Qur'an dari susunan bahasanya
Sebagai mana diketahui al-Qur'an diturunkan dl tengah-tengah bangsa Arab yang telah mencapal puncak kemajuan di bidang kesusasteraan, tetapi susunan bahasa Ilahiyah yang terkandung di dalam al-Qur'an sesuai dengan fungsinya sebagai mu'jizat terbesar bagi kerasulan nabi Muhammad dapat mengungguli ketinggian bahasa sastra yang dipergunakan oleh para penyair dan orator yang ternama di masa itu dan bahkan al-Qur'an dapat mematahkan kebanggaan mereka dalam menyusun dan mengubah paramasastra yang selama ini disanjung-sanjung dan diagungkan
Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab, hal ini telah dijelaskan dalam firman Allah:
Artinya:
'Sesungguhnya telah kami turunkan al-Qur'an dengan bahasa Arab, supaya kamu memahaminya”. (Q.S. Yusuf: 2)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
Artinya:
"Demikianluh kami wahyukan kepadamu al-Quran dalam bahasa Arab, supaya kumu memberi peringatan kepada ummul Quro {penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri sekelilingnya) (QS. Asy-.Syuraa: 7)
Kalau kita perhatikan kedua ayat tersebut, maka jelas bahwa Allah sengaja mewahyukan al-Qur'an yang menjadi bekal mu'jizat nabi Muhammad dengan mempergunakan bahasa Arab, bahasa dari penduduk dunia yang paling tinggi pada masa itu, agar mereka membaca, memahami dan melaksanakan petunjuk-¬petunjuknya. Karena bangsa Arab waktu itu telah terbiasa mendengar dan menghayati susunan bahasa sastra yang tinggi dari karya gubahan para penyair atau susunan para orator yang masyhur.
Dikisahkan dalam Fathul barri, Ibnu Abas pada suatu hari datang Walid bin Mughirah kepada nabi Saw. Beliau bacakan kepadanya ayat-ayat al-Qur'an, terlihat sangat tertarik olehnya. Lalu berita itu disampaikannya kepada Abu Jahal dan untuk disampaikan kepada kaumnaya, tapi setelah dipikir-pikir la menyadari, ia mengatakan "ia (al-Qur'an) bagaikan sihir yang mempesona" dan mengatakan "ia lebih mengesankan dari yang lain".
Terdapat pula kisah Tufeil bin 'Amir yang sastranya halus bagaikan kapas, sehingga dia tidak merasa perlu mendengarkan al-Qur'an. Tapi setelah dia dapat mendengarnya langsung dari Rasulullah Saw dan dia tertarik sekali olehnya, sehingga menyatakan diri masuk Islam (Kahar Masyhur, 1992-143).
Disisi lain juga al-Qur'an sengaja menantang, tantangan tersebut dikemukakan bagi siapa saja yang masih meragukan keindahan gubahan bahasa Ilahiah dan masih meragukan kebenaran mu’jizat al-Qur'an yang menjadi bukti kemu'jizatan dart kerasulan Muhammad Saw tantangan itu terdapat dalam firman¬Nya :
Artinya:
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhummud), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar (Q.S. al-baqarah: 23)
Sebagai contoh dan bukti, dapat kita periksa karya yang mencoba menandingi gaya bahasa al-Qur'an, yang dibuat oleh Musailamah al-Kadzab setelah Nabi Muhammad Saw wafat. Diantaranya adalah:
Artinya:
"Gajah, apakah gajah itu? Tahukah kamu apakah gajah itu? Gajah adalah yang ekornya kopat-kapit, dan belalainya panjang. Sesungguhnya yang demikian itu ciptaan Tuhan yang sedikit sekali ".
Susunan yang dibuat oleh Musailamah ini telah banyak mendapat tantangan dan cemoohan bagi bangsa Arab, baik mereka yang mengerti maupun yang tidak mengerti paramasastra, baik susunan bahasanya yang janggal maupun isi dan maknanya yang dangkal, sehingga tidak dapat menarik simpati dari bangsa dan golongannya sendiri.
Jelaslah bahwa demikian tinggi dan agungnya bahasa al-Qur'an serhingga bukan saja zaman klasik namun juga masa kini, bahkan sampai kapan pun, al¬Qur'an akan tetap dikagumi dan tidak akan ada yang menyamainya. Oleh karena itu mu'jizat al-Qur'an dari segi kebahasaan ini akan tetap relevan baik pada zaman klasik maupun kekinian.
2. I'jaz Kandungan al-Qur'an
Al-Qur'an sebagai mu'jizat mempunyai kandungan ayat antara lain:
a) Aturan-aturan Ilahi yang sempurna
Undang-undang Tuhan dalam al-Quran melebihi undang-undang buatan manusia sejak dulu, al-Qur'an menjelaskan pokok-pokok aqidah, hukum-hukum ibadah, norma-norma keutamaan dan sopan santun, juga tentang aturan-aturan hukum ekonomi, sosial kemasyarakatan, memuat tentang persamaan kebebasan, musyawarah dan sebagainya. Contohnya; aturan al-Qur'an untuk bersaksi ketika mengadakan jual beli dan menulis hutang piutang, seperti:
Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan hendaklah kamu menuliskannyu. Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar... (QS. Al-baqarah: 282).
Aturan ini merupakan sesuatu hal yang baru pada saat turunnya al-Qur'an, dan merupakan sesuatu yang harus menurut budaya modern. Dengan contoh ini jelaslah, bukankah al-Quran sudah modern sejak dulu.
b) Isyarat ilmu pengetahuan
Berdasarkan keyakinan kita bahwa al-Qur'an bukanlah kitab ilmu pengetahuan alam, arsitek, iptek, atau fisika. Tapi al-Qur'an adalah kitab petunjuk atau pembimbing untuk pembaharuan dan perbaikan. Namun demikian ayat¬-ayatnya tidak terlepas dari isyarat-isyarat tentang masalah-masalah alam semesta, kedokteran, geografi, geologi, biologi, dan yang lainnya yang semuanya menunjukan kemu'jizatan al-Qur'an dan kedudukan dari wahyu Allah Swt. Yang pasti bahwa nabi Muhammad seorang nabi yang ummi, lahir dari lingkungan yang jauh dari kebudayaan. Keluarganya adalah ummi seperti pengakuan beliau, tidak pandai menulis dan menghitung teori ilmiah yang diisyaratkan al-Qur'an pada masa itu belum dikenal. Adapun isyarat-isyarat ilmiah tersebut, sebagiannya baru terungkap pada masa modern, masa atom, planet, dan internet sekarang ini. Diantara firman Allah itu ialah:
Artinya:
“Perhatikanlah apa-apa yang pada semua langit dan bumi.”. (Yunus: 101)
Kemudian asal kejadian kosmos itu sendiri, dalam surat al-anbiya ayat 30, yaitu:
Artinya:
"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antura keduanya. Dan dari air kami .jadikan segala sesuatu yang hidup Maka mengapakah mereka tidak juga beriman ?
Dalam ayat-Nya yang lain dalam surat al-Hijr ayat 22, yaitu:
Artinya:
“Dan kami telah meniupkan ungin untuk mengawinkan (tumbuh-¬tumbuhan) dan kami turunkan hujan dari langit, lalu kami beri minum kamu dengan air itu, dan bukan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya..
Ayat di atas menjelaskan bahwa langit dan bumi pada suatu ketika adalah suatu gumpalan kemudian dipisahkan Tuhan, merupakan suatu hakikat ilmiah yang tidak diketahui pada masa turunnya al-Qur'an oleh masyarakatnya. Tetapi ayat ini tidak mennci kapan dan bagaimana terjadinya hal tersebut (Quraish Shihab, 1998:110).
Dari kedua ayat di atas merupakan isyarat berpikir bagi manusia.untuk senantiasa mencari dan mencari, hasil yang di dapat kemudian dari penciptaan langit dan bumi mendatangkan kemaslahatan bagi manusia serta menyadari akan kekuasaan Allah Swt.
Begitu pula ayat berikutnya (al-Hijr: 22) manusia dapat mengambil pelajaran dari tumbuh-tumbuhan yang akhirnya manusia bisa mengembang biakan proses percepatan tumbuhan melalui misalnya generatif, pegetatif dan yang lainnya.
Penemuan-penemuan baru dari ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini tampak untuk tidak melemahkan kedudukan al-Qur'an sebagai mu'jizat, justru sebaliknya karena penemuan-penemuan tersebut pada dasarnya sudah diisyaratkan dalam al-Qur'an, meskipun tidak dirinci secara detil.
c) Informasi al-Qur'an tentang yang gaib
Diantara Pjaz al-Qur'an ialah, karena al-Qur'an dapat menceritakan hal-hal
yang gaib, seperti tentang sorga dan neraka. Dalam surat al-a'raf : 47
Artinya:
“Apabila pemandangan mereka dialihkan kepada orang-orang neraka, mereka ini mengatakan: au, Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama orang-orang yang zalim itu.
Dalam ayat lain:
Artinya:
Nanti dia bakal dimasukan ke dalam neraka. Tahukah engkau apakah neraka itu?. Tiadalah ditinggalkannya tubuh manusia melainkan dibakar kulit manusia. Di sana ada sembilan belas penjara. (al-mudatsir: 26-30)
Begitu pula tentang hari pembalasan. Seperti ketika khalifah Umar bin khatab memberi semangat kepada pasukan perangnya melawan tentara kafir. Dia mengajarkan kepada mereka:
Artinya:
"Katakanlah (hai Muhammad) kepada orang-orang kafir itu, "kamu akan dikalahkan dan akan dikumpulkan ke dalam neraka jahanam. Itulah tempat yang jahat (Ali Imran: 12)
d) Prediksi al-Qur'an tentang Kejadian yang akan datang
Ayat yang berupa pemberitahuan al-Qur'an tentang peristiwa yang akan terjadi. Seperti berita kemenangan Persi terhadap bangsa Romawi, Padahal surat al-Rum turun ayat 1-5 jauh sebelum peristiwa itu terjadi.
Artinya:
Alif laam miim. Telah dikalahkan bangsu Romawi. Dinegeri yang terdekat dan mereka sudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun lagi bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah mereka menang dan di hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yangdikehendaki-Nyu. Dan Dialah yang maha perkasa lagi maha penyayang.
Begitupun dalam surat al-fath ayat 27, mimpi Rasulullah memasuki kota Makkah secara aman benar-benar terlaksana. Ini membuktikan mu'jizat yang sebelumnya manusia tidak mengetahui.
e) Berita tentang Umat-umat terdahulu
Al-Qur'an banyak mengisahkan nabi-nabi atau umat-umat terdahulu dari keluarga Imran, Dzu al Qarnain sampai kepada kisah fir'aun dalam Q. S. Yunus : 90-92. Yang ditenggelamkan dan badan-nva diselamatkan oleh Allah Swt. Sehingga menjadi pelajaran bagi umat-umat yang sekarang.
3. I'jaz AI-Qur'an Dalam Aspek Sosial Kemasyarakatan
Al-qur'an banyak membicarakan aspek-aspek sosial kemasyarakatan diantaranya:
Manusia adalah pelaku yang menciptakan sejarah. Gerak sejarah adalah gerak menuju suatu tujuan, dan tujuan tersebut ada dihadapan manusia. Maka yang harus dilakukan manusia membawa perubahan. Al-qur'an sendiri sudah sejak dulu menegaskan:
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum (masyarakat) sampai mengubuh (lebih dulu) apa yang ada pada siri mereka (sikap mental) (Q.S' 13. 11)
Ayat ini bicara dua macam perubahan dengan dua pelaku. Pertama perubahan masyarakat yang pelakunya Allah. Ini tejadi secara pasti melalui hukum-hukum masyarakat yang diterapkannya. Kedua perubahan keadaan din' manusia yang pelakunya adalah manusia (Quraish Shihab, 1998:246).
Dalam al-Qur'an manusia diperintahkan untuk memakan makanan yang halal dan baik lagi bergizi. Dalam surat al-maidah ayat 88
Artinya: Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah rizkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadanya.
Dalam surat Abasa juga Allah menegaskan “fal yanzuril insaanu ila toaamihi” maka hendaklah manusia itu memperhatikan makananya.. Dalam kaitannya dengan kesehatan masyarakat, gizi yang mengantar kepada kesehatan merupakan syarat untuk mencapainya.
Masih banyak lagi al-Qur'an mengungkap tentang sosial kemasyarakatan, baik kependudukan, lingkungan hidup, pergaulan dan lain sebagainya.
4. I'jaz al-Qur'an dari pemalingan manusia untuk menentangnya
Kemu'jizatan al-Qur'an juga karena ketidakmampuan manusia untuk membuat seperti al-qur'an, barangkali satu ayat saja untuk membuatnya. Dalam hal ini al-Qur'an membuat tantangan-tantangannya seperti:
Artinya:
"Maka hendaklah mereka medatangkan kalimat yang semisal al-Qur'an itu.jiku mereka orang-orang yang benar (QS. Ath-Thuur : 34)
Artinyu:
"Katakanlah: "sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain "(QS. Al-Isra : 88).
Dalam hal ini al-Qur'an benar-benar melemahkan orang-orang yang masih ragu dan tidak percaya bahwa al-Qur'an adalah wahyu Allah. Ketidak mampuan dalam membalas tantangan al-Qur'an tersebut adalah bukti bahwa al-Qur'an adalah mu'jizat.
Ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa kemu'jizatan al-Quran adalah dengan sebab sharf (pemalingan). Artinya Allah memalingkan manusia untuk menantang al-Qur'an, padahal ia mampu. Kalaulah Allah tidak memalingkan dari hal itu, pasti mereka akan bisa menciptakan seperti al-Qur'an. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Ishak al-Nazham (Muhamad All al-shabuni, t.t.:135) dari golongan Mu'tazilah yang pendapatnya banyak ditentang. Secara implisit berarti al-Nazham mengatakan bahwa al-Qura'an itu bukan mu'jizat.
Kalaulah mungkin pendapat al-Nazham itu benar, timbul pertanyaan, mengapa pemalingan itu bisa terjadi ?. Mungkin jawabnya, karena I'jaz al-Qur'an.
D. Kesimpulan
I'jaz al-Qur,an merupakan sesuatu yang sangat istimewa yang dapat mengalahkan dan mematahkan setiap tantangan yang di hadapi Rasul. Ini membuktikan kebenaran nabi kepada umatnya bahwa mereka benar-benar utusan Allah, hal ini juga dibuktikan secara ilmiah dari sudut pandang yang berbeda sehingga keberadaan dan kejelasan Muhammad membawa risalah benar-benar dibuktikan secara jelas.
Jelaslah bahwa demikian tinggi dan agungnya bahasa al-Qur'an sehingga bukan saja zaman klasik namun juga masa kini, bahkan sampai kapan pun. al¬Qur'an akan tetap dikagumi dan tidak akan ada yang menyamainva. Oleh karena itu mu'jizat al Qur an dari segi kebahasaan ini akan tetap relevan baik pada zaman klasik maupun kekinian.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mahmud Soliman, 1985, Scientific Trend In the Our an. London: Ta-Ha Publisher Ltd.
Jalal-al-Din Al-Suyuthi, t.t., Al-Itqan, fi ul-ulum al-Qur'an Juz, II, Dzarul Fiqr.
Kahar Masyhur, 1992, Pokok pokok Ulumul Qur'an, Jakarta: Rhineka Cipta.
Mana' Al-Qhaththan, 1973, Mabaahits fi `ulumi al-Qur'an, Mansyurat al ashar al Hadits
Muhammad `abd al-Azhim Al-Zarqani, t.t., Manahilil al-lrfun, fi ulum al-Qur,an, Jilid 1, Mesir : Dar ahya al-Qutub al-arobi.
Muhamad All al-shabuni, 1976, al-Tibyan fi ulum al-Qur'an, hal 135, Terjemah. Undang Burhanudin
Undang Burhanudin, 2001, Al-llmu AI-Qur'an, Bandung: IAIN SGD.
Quraish Shihab, 1994, Membumikan Al-Qur'an, Bandung: Mizan, 1998, Mukjizat Al-Qur'un, Bandung: Mizan
Posted by
Abang
at
9:11 AM
0
comments
Friday, September 7, 2007
Gugat Yu...!!
Transformasi Budaya Mahasiswa
Oleh IRAWAN)*
Mahasiswa salah satu perguruan tinggi! Begitulah gelar kehormatan yang sempat saya emban selama lima tahun lebih. Semenjak tahun 2003 sampai 2007, kata mahasiswa seakan tak pernah terukir dalam jiwa. Kritis dipandang secara sinis, kreativitas dihalangi agar tak meretas dan progresivitas tak dibiarkan meranggas.
Atmosfer hidup mahasiswa di PTN/PTS lebih menampilkan keindahan “cangkang luar”. Keindahan intelektual jarang diperhatikan. Ketimbang hunting buku terbaru ke toko atau perpustakaan dan belanja online dalam satu bulan; malah memburu sepatu, celana dan baju di mall-mall ternama untuk memodali kencan di malam minggu. Biar terlihat gaya, katanya.
Mahasiswa salah satu perguruan tinggi! Begitulah gelar kehormatan yang sempat saya emban selama lima tahun lebih. Semenjak tahun 2003 sampai 2007, kata mahasiswa seakan tak pernah terukir dalam jiwa. Kritis dipandang secara sinis, kreativitas dihalangi agar tak meretas dan progresivitas tak dibiarkan meranggas.
Atmosfer hidup mahasiswa di PTN/PTS lebih menampilkan keindahan “cangkang luar”. Keindahan intelektual jarang diperhatikan. Ketimbang hunting buku terbaru ke toko atau perpustakaan dan belanja online dalam satu bulan; malah memburu sepatu, celana dan baju di mall-mall ternama untuk memodali kencan di malam minggu. Biar terlihat gaya, katanya.
Sebetulnya ada banyak “embel-embel” istilah untuk merepresentasikan life style mahasiswa. Mulai dari istilah calon intelektual, aktivis, akademis, pemuda harapan bangsa, sampai ada juga yang menyebutnya si “pungky” dan si “trendi”. Mau ikuti gaya hidup mana. Itu terserah mahasiswa. Apakah bakal tergusur pada life style calon intelektual yang kerjaannya diskusi, baca buku, menulis artikel, dan menjadi peneliti kecil-kecilan, bahkan anti berpacaran? Atau malah mengikuti para aktivis mahasiswa yang berteriak keras di depan gedung rektorat, anggota dewan dan kantor pejabat pemerintahan ketika mengeluarkan kebijakan-kebijakan sumbang?
Ah…, tapi bisa juga mereka terjebak pada rutinitas belajar-mengajar seperti yang dianut mahasiswa silabi. Berangkat kuliah, duduk mendengzarkan dosen yang bersilat lidah, pulang ke kosan, dan paling banter membaca buku yang dianjurkan bahkan diwajibkan dosen saja. Maka ketika selesai kuliah, mereka kelabakan mencari lowongan kerja di koran-koran lokal dan nasional setiap hari Sabtu dan Minggu. Kedua hari itu bukanlah hari yang digunakan untuk merehatkan diri dari kepanatan. Ya, tepatnya hari berpusing ria untuk mencari lowongan kerja.
Namun, bisa juga ada mahasiswa yang ikut-ikutan bergerombol dengan mahasiswa pecinta fashion merk luar negeri. Sampai-sampai (maaf) celana dalamnya juga berbau asing dan susah dilafalkan mahasiswa dari Pesantren seperti saya. Tak heran kalau para budayawan pernah berpandangan bahwa kita merasa lebih Amerikanis daripada orang Amerika sendiri.
Lantas, bagaimana trik jitu menghadapi perubahan budaya dari seragam “putih abu-abu” ke arah kebebasan tanpa terikat warna? Sebab, budaya SMA dengan Universitas berbeda betul. Bahkan, kita juga tahu bahwa mahasiswa di Universitas bebas memakai pakaian dan celana berwarna apa saja, kecuali lembaga pendidikan yang berorientasi kerja.
Makna pakaian
Apa makna dari bebas berpakaian di Universitas? Ya, bebas menentukan jalan hidup yang dianut ketika dirinya memasuki lanskap baru bernama Universitas. Dari mulai gaya hidup mahasiswa “proletar” sampai mahasiswa “borjuistik”. Komplit betul gaya hidup mahasiswa perguruan tinggi bagaikan bintang-bintang yang bertebaran di angkasa raya. Posisinya juga hampir sama dengan seorang pendaki gunung yang harus menentukan langkahnya ketika berhadapan dengan jalan yang bercabang.
Coba rasakan, adakah perbedaan dengan masa SMA dulu? Lantas, gaya hidup manakah yang bakal kita jadikan pedoman beraktivitas di dunia kampus? Mahasiswa intelektualkah, aktiviskah, akademiskah, atau mahasiswa gaul? Itu terserah suara batin. Tak ada paksaan dalam memilih gaya hidup ketika peralihan budaya dari kebiasaan generasi “putih abu-abu” menuju kebiasaan (baca: budaya) generasi bebas tanpa ikatan warna terjadi.
Yang pasti, setiap kebudayaan dalam pandangan antropologis memiliki bermacam dimensi, diantaranya: Pertama, sangat berdimensi material seperti baju yang dipakai, musik yang didengarkan, bahkan sampai patung-patung yang di pajang di laboratorium Universitas. Kedua, lebih bersifat immaterial seperti nilai-nilai kearifan yang dijabarkan, kedisiplinan yang konsisten kita lakukan, kesopansantunan yang terus dipegang teguh, dan sikap-sikap konstruktif yang dijadikan landasan berperilaku.
Nah, Bagi mahasiswa (baru) atau juga baru merasa menjadi mahasiswa (bagi yang lama), biar tidak pusing, kita ambil saja dua dimensi tersebut. Campur aduk hingga bentuknya berubah menjadi sebuah produk yang nikmat dikonsumsi bagaikan “es campur”. Meminjam istilah Hikmat Budiman – generasi “Multitasking”, sebuah istilah yang merepresentasikan aneka macam fungsi laiknya program Microsoft Office dalam perangkat lunak komputer.
Misalnya, dalam program layanan komputer tersedia berbagai program yang bisa digunakan hanya dalam satu tampilan layar monitor. Program seperti Microsoft Office Word, Microsoft Office Excel, Microsoft Office Ficture, dan Microsoft Office Publisher bisa difungsikan dalam satu ruang seperangkat komputer Pentium II, III, atau IV untuk mengefektifkan pekerjaan. Mahasiswa juga begitu. Ia memiliki multifungsi dan multimanfaat yang mestinya dipraktikkan. Tidak harus akademis saja, organisatoris semata, intelektualis an sich, bahkan jangan pernah menjadi mahasiswa korban produk kapitalisme doang.
Dalam bahasa lain, silahkan mahasiswa nongkrong, tapi harus tahu waktu. Kapan moment yang tepat untuk nongkrong. Kapan juga saatnya untuk belajar hidup dan tentunya saat yang paling tepat untuk memberikan manfaat pada masyarakat. Acep Iwan Saidi, sastrawan dari Jawa Barat pernah menulis puisi cantik dan estetik: Aku mengeja aksara di keningmu/Ketika setetes harapan/Mengalir menjadi embun/Membasahi pagi yang mekar menjadi mawar//.
Lantas, akankah mahasiswa dari pedalaman atau pelosok daerah mampu mengalirkan setetes harapan menjadi embun saja untuk memekarkan semangat memeroleh pendidikan tinggi yang murah? Ah, mudah-mudahan saja mampu!
Irawan, lahir di Cianjur 02 april 1983. Ketua HMI Komisariat Syari’ah dan Hukum Cabang Kab.
Posted by
Abang
at
9:55 AM
0
comments
Labels: KHAZANAH
Thursday, July 19, 2007
Kemanakah Jurnalisme HMI..?
Tradisi Jurnalisme, Perlukah Kita (HMI)?
Oleh MUHAMMAD AS
Saya sedang menyusun kurikulum pendidikan jurnalisme yang pas bagi mahasiswa untuk dikembangkan di Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI), sebuah lembaga yang dibentuk Himpunan Mahasiswa Islam HMI (MPO). Ini lembaga yang didirikan untuk mendidik anggotanya agar memiliki keahlian dan profesonalisme di bidang jurnalisme. Kurikulum ini akan menjadi model pendidikan jurnalisme di lembaga itu.
Akhir Juli ini, LAPMI akan mengelar Lokakarya untuk merumuskan kurikulum tersebut. Dalam lokakarya itu LAPMI menurut rencana juga akan melakukan perubahan mendasar pada kelembagaan LAPMI. Bahkan ada rencana lembaga ini akan berubah nama (Rencananya akan berubah menjadi Institut Jurnalisme Mahasiswa- red). Lembaga ini ke depan akan lebih fokus pada pendidikan jurnalisme tingkat mahasiswa.
Selama bertahun-tahun LAPMI memang belum memiliki pola pendidikan yang baku. Padahal kurikulum inilah yang akan menjadi tulang punggung keberlanjutan lembaga dan pengkaderan anggotanya. Saya kira masalahnya bukan pada persoalan SDM sebenarnya, tapi lebih kepada membentuk tradisi baru di HMI agar memiliki interest lebih pada jurnalisme. Saya ambil cotoh kecil, untuk mencari peserta yang mau ikut training jurnalistik saja di komunitas HMI sulitnya minta ampun, sangat kontras dengan peserta yang ikut traning macam traning politik yang pesertanya bisa berjibun. Kelasnya pasti penuh.
LAPMI memang pernah beberapa kali mengadakan pendidikan jurnalisme, tapi materinya hanya sebatas pengenalan dasar jurnalisme (reportase dasar) dan tidak menyentuh secara mendalam misalnya soal verifikasi dan bias media.
LAPMI juga dulu sempat menerbitkan media-media alternative. Di Jakarta, Jogja, Semarang, Makasar dan cabang-cabang LAPMI di seluruh Indonesia. Media seperti ini banyak berkembang ketika Orde baru berkuasa. Dan saya kira kita tak sendirian, banyak organisasi lain juga melakukan hal yang sama. Tapi bagi saya terbitnya media tersebut tidaklah cukup untuk melihat tradisi jurnalisme tengah berkembang di komunitas kami. Faktanya isi dari media tersebut toh sangat juah dari prinsip dasar jurnalisme seperti soal verifikasi yang menjadi esensi dari jurnalisme.
Perkembangan menarik baru terjadi setahun ini. Banyak anggota HMI yang mulai bertanya-tanya tentang jurnalisme. Banyak yang bertanya kepada saya bagaimana cara menulis berita yang bener, bagaimana menulis opini, bagaimana menulis feature, apa sih citizen jurnalism, apa itu jurnalisme baru, jurnalisme sastrawi, jurnalisme investigasi, dan lain-lain. Saya sampai kualahan!.
Beberapa cabang yang LAPMI-nya tak jalan kini mulai dihidupkan lagi. Mereka juga mulai lagi bikin media, ada yang berbentuk buletin, ada yang bikin blog. HMI memiliki sekitar 50 cabang di seluruh Indonesia, dan 30 persennya memiliki LAPMI.
Setahun ini diskusi jurnalisme juga sudah jadi obrolan-obrolan kecil di teras sekretariat. Kemarin ketika saya berkunjung ke LAPMI cabang di Purwokerto ada saja ocehan “ Besok saya liputan si anu ya,”; “ Aku liputan anak jalanan saja,”; ”Oh si Anu lagi begini lho, kita liput yuk,”. Obrolan-obrolan seperti ini dulu tak pernah terjadi.
Saya kira gairah ini yang tidak boleh dibiarkan begitu saja. Sudah saatnya LAPMI memiiki kurikulum sendiri dalam pendidikannya. Di HMI, pendidikan seperti ini menjadi penting bagi pengkaderan anggotanya. Dan Kornas LAPMI sudah membentuk tim khusus untuk mengodog kurikulum tersebut.
Tantangan tersulit yang kami hadapi dalam menyusun kurikulum ini adalah karena tradisi jurnalisme di HMI memang masih kalah tenar dibanding tradisi politik. Kesulitan kedua kami menyusun pendidikan jurnalisme untuk mahasiswa yang bukan khusus belajar di pendidikan formal jurnalistik. Tentu saja kurikulum yang kita bikin tidak akan sama dengan kurikulum pendidikan jurnalisme di kampus-kampus formal yang diajarkan dalam satu semester penuh dan dijejali mahasiswa jurusan jurnalistik. Bayangan kami kelas hanya akan berlangsung selama sekitar 4 – 5 hari saja atau paling lama seminggu. Kelas ini ada kelas tingkat dasar dan ada kelas tingkat lanjut. Model kelas ini sifatnya wajib. Materi-materi yang diajarkan selain materi dasar jurnalisme juga ada rencana mengajarkan materi macam Literary Journalism, Citizen Jurnalism, New Jurnalism. National Affairs Reporting, Cultural Affairs Reporting, In Dept Reporting, Human Rights Reporting, Business and Economic Reporting dan lain-lain.
Kami juga memasukkan model kursus yang sifatnya menjadi pilihan. Model kursus ini diarahkan pada konsentrasi. Kami memang ingin sekali mengarahkan setiap anggota LAPMI agar memiliki konsentrasi di bidang tertentu. Banyangan kami ada empat kategori konsentrasi : Brodcasting, Majalah, Koran, dan Online. Jadi kedepan anggota LAPMI ada yang jago bikin majalah, jago di jurnalisme online, jago jadi wartawan koran, dan jago jadi wartawan televisi atau radio.
Saya kira ini terobosan baru yang kalau berhasil bisa membuat tradisi baru di HMI. LAPMI atau apapun nama lembaganya nanti akan menjadi mainan yang menarik untuk dimasuki anggota HMI. Dan saya kira ke depan inilah satu-satunya lembaga jurnalisme tingkat mahasiswa yang pernah ada di Indonesia.[Sumber www.hminews.com]
***
Muhammad AS, Direktur Koordinator Nasional Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) HMI.
Posted by
Abang
at
11:22 AM
2
comments
Labels: Jurnalisme HMI
Wednesday, July 4, 2007
Bercerminlah
Muthahhari, Guru Besar Muslimin Era Modern
......
Dewasa ini, berbagai negara dunia menggalakkan pembahasan masalah reformasi pemikiran dan sosial. Dalam hal ini Islam senantiasa menyerukan reformasi dan pembenahan dan selalu mendorong masyarakat untuk membenahi kondisi yang ada. Terkadang sebuah masyarakat menjalani rutinitas mereka selama puluhan dekade bahkan ratusan tahun tanpa ada perkembangan apapun. Perlahan-lahan masyarakat itu mengalami proses degradasi dan kejumudan. Saat itulah, harus muncul seorang figur yang mampu menyadarkan dan mendorong masyarkat tersebut untuk bergerak maju. Pembenahan itu dapat dilakukan di berbagai bidang, dan pada era kini salah seorang figur reformis pemikiran agama adalah Syahid Ayatullah Murtadha Mutahhari.
Seorang peneliti dan dosen universitas Iran, Doktor Hasan Azghadi mengatakan, “Berjihad dan pengorbanan tidak dilakukan hanya di sektor politik dan sosial saja. Ada saatnya saat melakukan penelitian ilmiah yang menggunakan pilar-pilar pemikiran, seseorang harus bersikap berani. Di satu sisi, ia harus berdiri tegak menghadapi berbagai pemikiran menyimpang di kalangan internal ummat Islam. Di sisi lain, ia juga harus melawan serbuan pemikiran dari luar yang menyatakan bahwa agama bukanlah hal yang penting dalam kehidupan manusia.
“Dalam sejarah, kita akan mendapati bahwa orang yang mampu melakukan perjuangan melawan dua kekuatan pemikiran itu bisa dikatakan sangat sedikit. Di antara pemikir yang sedikit itu adalah Syahid Muthahhari. Beberapa dekade lamanya, Muthahhari muncul sebagai pemikir Islam yang mampu membela agama Islam dari serbuan pemikiran luar ataupun penyimpangan internal. Ia mengemukakan pemikiran Islam yang hakiki dengan bahas yang bernas, cerdas, dan menarik. Muthahhari adalah penjaga benteng pemikiran Islam yang kokoh di akhir abad 20. Pejuang pemikiran Islam itupun pada akhirnya mempersembahkan nyawanya di jalan agama dan gugur sebagai syahid.”
Kalau kita mengamati pemikiran-pemikiran Syahid Muthahhari, kita akan mendapati fakta bahwa sebagian sebagian besar aktivitas ilmiahnya dicurahkan untuk mengungkap penyimpangan pemikiran Islam yang ada di tengah-tengah masyarakat, sekaligus memberikan bantahannya. Muthahhari juga memberikan penjelasan atas berbagai hal yang masih sering dianggap bias dalam ajaran Islam. Sebagai contoh, Muthahhari menulis tiga jilid buku berjudul “Perjuangan Huseini”. Di buku itu, Muthahhari secara detail menuliskan faktor-faktor yang membuat pejuangan Imam Husein di Padang Karbala menjadi begitu abadi. Ia juga menjelaskan hal-hal yang sering dipertanyakan oleh sejumlah kalangan terkait peristiwa tersebut. Syahid Muthahhari di buku itu juga menjelaskan pentingnya tugas muslimin dalam mengantisipasi aksi distorsi dan perusakan agama dan sosial.
Syahid Muthahhari menilai Islam sebagai agama yang dapat menjawab seluruh tuntutan pada zamannya. Di antara karya komprehensif beliau adalah buku berjudul “Islam dan Tuntutan Zaman”. Beliau berpendapat bahwa umat manusia memiliki ketergantungan terhadap unsur-unsur materi dan maknawi. Cara untuk memnuhi tuntutan tersebut pun sangat beragam dan berbeda-beda pada setiap zaman. Sebab itu, manusia harus menyesuaikan dirinya dengan tuntutan zamannya. Menurut Muthahhari, tuntutan tersebut tidak dapat dielakkan atau dicegah. Namun pada saat yang sama, tidak seluruh fenomena tersebut adalah pilihan terbaik bagi kehidupan manusia. Karena, fenomena tersebut adalah karya manusia yang tidak terjaga dari kesalahan. Oleh sebab itu, setiap individu dituntut untuk dapat menyesuaikan tuntannya serta mengontrol dan membenahinya.” Artinya, umat manusia harus dapat menyesuaikan diri dengan kondisi zamannya seperti memanfaatkan teknologi yang terus berkembang. Namun pada saat yang sama mereka juga harus tetap menjaga diri dari dampak negatif yang muncul dari arus kemajuan teknologi.
Menurut Muthahhari, ajaran Islam adalah yang paling komprehensif, sempurna, dan terus hidup sepanjang zaman. Ajaran Islam juga dapat disesuaikan dengan tuntutan pada zamannya. Masalah inilah yang ditekankan beliau dalam bukunya berjudul ‘Matahari Agama, Tidak Akan Pernah Terbenam’. Ditegaskannya bahwa, fenomena sosial dapat dikokohkan jika disesuaikan dengan tuntutan masyarakatnya. Artinya, fenomena tersebut harus muncul dari dalam hati dan fitrah setiap manusia dan harus sesuai dengan tuntutannya.
Menyikapi perluasan pemikiran Barat yang menyerang dan menistakan kedudukan perempuan dalam Islam, Syahid Muthahhari menulis buku tentang hak-hak perempuan dan masalah Hijab. Dalam buku itu, Muthahhari mengemukakan berbagai argumentasi yang kuat dan bahkan balik mengkritik pendapat Barat mengenai hak perempuan dalam Islam. Beliau menepis pendapat Barat bahwa Islam telah menistakan hak perempuan. Dikatakannya, bahwa Islam menjunjung tinggi kedudukan perempuan. Dalam AlQuran disebutkan berbagai ayat yang menyebutkan bahwa takdir dan nasib perempuan dan laki-laki tidak dibedakan. Misalnya dalam masalah pahala dan azab, tidak ada perbedaan bagi kaum perempuan dan laki-laki. AlQuran bahkan menyebutkan keutamaan para wanita suci seperti istri nabi Adam dan Ibrahim, serta ibu nabi Musa dan Isa.
Salah satu pemikiran menarik Syahid Muthahhari adalah masalah pembedaan antara adat dan etika. Menurutnya, nilai-nilai etika akan kekal sepanjang masa. Karena etika seperti keadilan, kejujuran, menepati janji, cinta, dan lain-lainnya, sangat erat kaitannya dengan tuntutan dan kecenderungan manusia. Adapun adat sosial selalu mengalami perubahan. Sebab itu, Muthahhari menentang pihak yang berpendapat bahwa sejumlah adat harus tetap dijaga dan dilestarikan, karena menurut beliau, adat tersebut bisa jadi tidak sesuai dengan kondisi dan tuntutan zaman. Hal ini menurutnya akan menyebabkan kejumudan dan kemunduran.
Posted by
Abang
at
10:29 AM
3
comments
Labels: Sang Guru
Monday, July 2, 2007
Indonesia
Indonesia; Negeri Ironi
Oleh Ibn Ghifarie
Lakaknya di negeri ironi. Negara yang punya segalanya, tetapi kekurangan banyak hal. Kita punya laut amat luas, tapi isi laut yang melimpah tidak membuat nelayan kita kaya. Pengais jala tetap dalam wajahnya yang lama; miskin dan tak berdaya.
Hamparan hutan luas tak membuat binatang ternak beranak pinak. Malah mati kelaparan akibat huntanya gundul. Tentunya, banjir tak terelakan lagi.
Belum lagi, kita memang mempunya banyak kawah gunungg merapi, tetapi karena ulah lalim manusia. Penyangga bumi itu beralih fungsi menjadi malapetaka. Letusan lahar dingin daln lapa panas tak bisa dihindari lagi.
Bumi pertiwi ini juga punya banyak kandungan minyak tanah. Tetapi, benda ini juga bisa kapan saja menghilang dari pasar. Dan kalaupun ada, harganya bisa selangit. Rakyat kecil sering nanar dan kehabisan daya mencari energi ini.
Sebutan Negeri agraris pula tak bisa menyediakan beras untuk rakyatnya. Hingga harus di impor beras dari beberapa negara yang dulu belajar pertanian dari kita, seperti Thailand dan Vietnam.
Padahal Nenek moyang kita mewariskan tradisi mulia tersebut. Lantas kenapa harus meminta belas kasihan dari bangsa lain?
Tak hanya berhenti disini saja, bumi pertiwi ini juga punya banyak kandungan minyak tanah. Tetapi, benda ini juga bisa kapan saja menghilang dari pasar.
Kalaupun ada, harganya meroket tajam hingga selangit. Tentunya, rakyat kecil sering nanar dan kehabisan daya mencari energi ini.
Asal tahu saja, pada 2006 produksi CPO Indonesia mencapai 16 juta ton. Malaysia yang bertahun-tahun dikenal sebagai raja CPO, hanya 15 juta ton. Dengan potensi lahan kita yang amat luas, masih terbuka lebar produksi CPO Indonesia melaju terus. (Editorial, 11/06)
Beberapa hari, atau minggu lagi entah apa lagi yang akan sirna dari lintasan zamrud katulistiwa ini.
Bila dulu kita mengenal nyanyian `Tongkat dan tanam jadi impian`. Kini, rasanya tak ada lagi segala keindahan panorama Nusantara ini. Terlebih lagi saat penguasan dan masyarakatnya tal lagi memintingkan kelestarian alam sekitar.
Jika perilaku itu yang terus tertanam pada anak cucu kita, niscaya kehancuran negara bernama Indonesia ini sudah di ambang pintu. Lalu apa yang harus kita perbuat sebagai generasi penerus bangsa?
Belajarlah dengan sungguh-sungguh bagi pencari ilmu dan rawatlah alam raya ini layaknya memelihara diri sendiri.
Dengan demikian, sebutan negeri ironi tak akan melekat lagi di bangsa Indonesai ini. Semoga. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 11/06;06. 37 wib
Posted by
Abang
at
8:38 AM
0
comments
Labels: Negeri Ironi
Lagi HMI Dipertanyakan
HMI: Harapan Masyarakat Indonesia ?
Catatan 60 Tahun Himpunan Mahasiswa Islam (1947-2007)
Oleh Azhari Akmal Tarigan
Setelah harian Waspada merayakan hari ulang tahunnya yang ke 60, kini giliran HMI merayakan usianya yang ke 60 (5 Februari 1947-5 Februari 2007). Tentu saja dalam usia yang tidak lagi muda tersebut, HMI telah banyak berbuat untuk bangsa dan negara. Berbagai suka dan duka telah terekam dengan cukup baik dalam lembaran sejarah HMI. Tentu saja lembaran-lembaran sejarah tersebut tidak semestinya hanya dijadikan sekadar dokumen sejarah, namun lebih dari itu harus dijadikan cermin untuk mengaca diri sekaligus untuk mengukur sejauh mana cita dan harapan pendirinya telah terpenuhi oleh kader HMI saat ini.
Di antara catatan sejarah yang layak diangkat sekaligus dievaluasi oleh kader-kader HMI saat ini adalah apa yang pernah dinyatakan Jenderal (Besar) Sudirman yang mengatakan bahwa HMI itu adalah singkatan dari “Harapan Masyarakat Indonesia.” Tentu saja pernyataan Jenderal Sudirman tidaklah bermaksud untuk membuat kuping kader HMI berasap dan tidak pula untuk memuji dan menyanjung HMI. Pernyataan Jenderal Sudirman itu adalah kesimpulan dari apa yang dilakukan HMI pada masa-itu sekaligus sebagai harapannya untuk masa mendatang.
Setidaknya ada beberapa alasan yang membuat Jenderal Sudirman begitu sangat menaruh harapan kepada HMI. Seolah masa depan bangsa ini seluruhnya diserahkan di pundak HMI.
Pertama, HMI adalah organisasi mahasiswa yang independen, non praktis politik dan tidak pula menjadi onderbouw dari sebuah partai politik Islam sekalipun.
Kedua, HMI sejak awal telah menegaskan dirinya sebagai organisasi yang berasaskan Islam. Namun yang menarik adalah Ke-Islaman HMI tidak terikat dengan mazhab pemikiran mana pun, apakah dalam bidang fikih, kalam (teologi) ataupun tasawuf. Jadi semua aliran pemikiran yang ada di dalam Islam diberi ruang di HMI untuk berkembang. Namun dalam sejarah HMI, alih-alih aliran tersebut dapat berkembang, mazhab pemikiran yang masuk ke dalam HMI akhirnya “luluh” dalam sistem pemikiran HMI yang terangkum di dalam NDP (Nilai Dasar Perjuangan). Tegasnya, HMI memiliki penafsiran tersendiri tentang Islam yaitu, Islam dalam maknanya yang universal dan Islam yang tidak terjebak pada simbol dan segala bentuk formalisme keagamaan.
Ketiga, di dalam HMI Keindonesiaan, Kemodernan dan Keislaman adalah satu tarikan nafas. Ketiganya tidak dapat dipisahkan. Cita keislaman, kebangsaan dan Kemodernan menjadi satu kesatuan yang utuh. Adalah tugas HMI untuk menjadikan Islam menjadi ruh bagi Keindonesiaan tanpa terjebak kepada Arabisme. Pada saat yang sama, Islam yang telah mengindonesia dengan warisan kultural yang kaya tersebut harus dapat mengakomodasi pluralitas budaya yang masih sesuai dengan ruh syari’at dan dalam tingkat tertentu merekayasa peradaban modern.
Keempat, kemahasiswaan dan “kemudaan” HMI dengan segala karakter yang melekat di dalamnya seperti idealisme, kritisisme, intelektualisme dan progresifisme adalah modal yang cukup berharga untuk membangun bangsa ini ke depan. Terlebih-lebih pada masa awal perkembangannya, di mana Indonesia baru saja merdeka, kiprah “orang-orang” HMI yang unggul dalam sisi intelektual dan moral menjadi sangat diharapkan untuk mengisi kemerdekaan.
Empat alasan di atas tampaknya dijadikan dasar bagi Jenderal Soedirman untuk menyebut HMI sebagai Harapan Masyarakat Indonesia. Namun sejalan dengan usia HMI yang telah mencapai angka 60, suatu usia yang tidak lagi muda, ibarat manusia sudah mencapai usia senja, kita layak menganalisis dan mengkaji apakah harapan Jenderal Soedirman itu telah terwujud dan sesuai dengan kondisi riil HMI saat ini. Benarkan HMI menjadi tumpuan harapan masyarakat Indonesia?
Kondisi Kekinian
Melihat kondisi kekinian HMI, penulis dengan berat hati harus menyatakan, HMI saat ini sangat jauh dari harapan masyarakat. Jangankan menjadi harapan masyarakat Indonesia, jangan-jangan HMI telah dilupakan umat. HMI seakan ada namun tidak ada. Di dalam idiom bahasa Arab sering disebut, wujuduhu ka’adamihi (adanya sama seperti tidak adanya). Datang tidak menambah bilangan dan pulang tidak mengurangi jumlah.
Ironisnya tidak saja pandangan miring ini muncul dari masyarakat, tetapi juga muncul dari kader HMI sendiri. Saya terkejut beberapa adik-adik kader HMI yang datang dan berdiskusi dengan saya menyatakan, betapa saat ini terjadi kelesuan ber-HMI di kalangan mahasiswa termasuk di kampus Islam terbesar di Sumatera Utara. Mereka seolah kehilangan ghirah dan semangat berorganisasi. Mereka tampaknya lebih tertarik berorganisasi dengan keuntungan material yang langsung dapat diterima dan dirasakan. Tidaklah mengherankan banyak mahasiswa yang terlibat dalam suksesi Pilkada mendukung calon tertentu dan melakukan apa pun demi calon yang memberinya keuntungan material.
Tentu saja pandangan ini tidak menafikan sebagian kecil kader HMI yang masih mampu bertahan dan memelihara api HMI di dalam jiwanya. Merekalah orang-orang yang serius mengembangkan organisasi dan sangat memahami betul apa yang menjadi mission HMI itu sendiri. Merekalah yang bergelut dengan buku dan diskusi kritis tentang berbagai persoalan bangsa. Merekalah kader yang tidak bisa dibayar hanya untuk menyuarakan kepentingan tertentu. Sayang, jumlah mereka kecil dan suaranya sering tidak terdengar. Akhirnya mereka juga tenggelam karena kelemahan mereka sendiri dalam manajemen isu.
Oleh sebab itu, di usia yang ke 60 ini sungguh HMI seperti orang yang tua renta. Tidak berdaya di pusaran arus pragmatisme dan hipokritisme. Tentu saja kita tidak ingin HMI di usia senjanya harus mati dengan teragis. Tidak mampu mengukir nama besarnya di era kontemporer ini. Padahal seperti yang dikatakan Khalil Gibran dalam Sayap-Sayap Patah, hidup tidak lebih dari mengukir nama besar. Tentu dengan prestasi besar.
Perlunya Revitalisasi
HMI harus segera diselamatkan bukan saja karena HMI itu begitu penting posisinya dalam mempersiapkan kader bangsa, tetapi karena di dalam HMI sendiri bangsa ini pantas menaruh harapan besar, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Jenderal Soedirman. Kendatipun banyak organisasi mahasiswa baik intra maupun ekstra universiter, hemat saya HMI tetap memiliki keunggulan yang tidak dimiliki organisasi lainnya. Mungkin pernyataan ini terkesan subjektif. Namun berangkat dari beberapa penelitian baik dalam bentuk tesis ataupun disertasi, sebagian besar telah membuktikan keunggulan HMI dalam motor pembaharuan pemikiran Islam, terutama dalam konteks membangun hubungan yang harmonis antara keislaman dan kebangsaan di negara ini.
Keunggulan lainnya adalah dalam pola dan sistem perkaderannya yang sebenarnya masih sangat kuat. Kendati hari ini berkembang training-training motivasi, emosi dan spiritual, namun training HMI tetap memiliki kelebihan-kelebihan.
Kelebihan training-training HMI terutama training formalnya (juga yang informal) hemat saya terletak pada kemampuannya membuka mata kader-kader HMI untuk melihat potensi yang dimilikinya sekaligus mengembangkannya menjadi sesuatu yang luar biasa. Tegasnya, training HMI berhasil membuat kadernya menemukan kehebatan dirinya untuk selanjutnya digunakan untuk membangun bangsa dan umat dalam rangka mencari ridha Ilahi.
Keunggulan lain dari organisasi warisan Ayahanda Lafran Pane ini adalah watak dan sifatnya yang independen (hanif). Sebagaimana yang telah disebut di muka, HMI tidak bergerak dalam politik praktis dan tidak pula partisan. HMI tidak memiliki organisasi induk sebagaiman organisasi mahasiswa lainnya. Kendatipun sepanjang sejarahnya HMI telah ditarik ke kanan dan ke kiri oleh kepentingan politik tertentu, namun tetap saja tidak mampu merubah watak indenpendennya. Independensi HMI inilah yang membuatnya tidak memiliki beban apa pun (psikologis dan historis) untuk menyerukan kebenaran kepada siapa pun. HMI hanya tunduk pada kebenaran.
Sejatinya, kekuatan-kekuatan itulah yang harus dikembalikan ke dalam HMI. Selama ini kekuatan tersebut tidak muncul, karena kader-kadernya telah kehilangan orientasi dan tidak lagi berpijak pada mission HMI dalam melakukan perjuangan. Tawaran ini tidak berarti HMI kembali ke masa lalu. Hanya saja yang dimaksud dengan “kembali” adalah kembali pada nilai dasar, semangat dasar dan cita-cita dasar kelahiran HMI. Nilai dasar inilah yang selanjutnya ditafsirkan secara kontekstual dengan melihat fenomena kontemporer yang berkembang.
Penutup
HMI adalah aset bangsa yang tetap dibutuhkan bangsa ini. Oleh sebab itu kepada kader-kader HMI dan alumninya sudah masanya untuk “kembali bersungguh dengan HMI”. Sudah saatnyalah kita seluruh anggota dan alumninya kembali ke rumah besar HMI. Perbedaan organisasi politik dan paham keagamaan tidaklah menjadi alasan untuk berbeda. Kita dipersatukan oleh Tujuan dan misi HMI yaitu mewujudkan insan cita dan masyarakat cita HMI.
Dirgahayu HMI semoga usia yang tua tidak menjadikan HMI lemah dan renta. Mari kita rapatkan shaf untuk membangun bangsa yang bermartabat dan beradab. Hanya dengan cara inilah, HMI akan tetap menjadi Harapan Masyarakat Indonesia.
* Penulis adalah alumni HMI dan Dosen Fakultas Syari’ah IAIN.Surabaya
Posted by
Abang
at
8:31 AM
0
comments
Labels: HMI
