Tuesday, August 31, 2010

Teror terhadap Aktivis


Oleh.Oki Sukirman Dzil-Akhwaini*

Istilah teror dan intimidasi dulu sangat populer pada masa pemerintahan Orde Baru. Saat itu negara dikelola dengan manajemen teror pemerintahan yang otoriter. Teror dan intimidasi memang dinilai ampuh untuk mengamankan legitimasi kekuasaan Orba, terbukti selama 32 tahun sistem menajemen teror penguasa mampu mengendalikan semua lini pemerintahan. Para aktifis kebenaran yang bersuara vokal dan lantang terhadap pemerintahan secara masif dan agresif ”diamankan” dengan cara diculik lalu dipenjara bahkan sampai dibunuh.

Rupanya, setelah dua belas tahun era reformasi berjalan, manajemen teror ala Orba tersebut belum sepenuhnya hilang. Apa yang menimpa Tama Satria langkun, aktifis Indonesia Corruption Watch (ICW) yang dianiaya oleh sekelompok orang yang tidak dikenal pada tanggal 8 Juli 2010 lalu dan juga pelemparan bom molotov ke kantor Tempo, merupakan bukti nyata, bahwa gaya premanisme, intimidasi dan teror masih bersemi di negeri tercinta ini.

Peristiwa yang terjadi beruntun tersebut menimbulkan tanda tanya besar. Mengapa peristiwa itu terjadi dalam waktu hampir bersamaan? Mengapa pula peristiwa itu terjadi tatkala ada pengungkapan rekening gemuk para perwira tinggi Polri? Siapa sebenarnya aktor dan pelaku di balik dua kasus tersebut?

Resiko perjuangan kebenaran.

Dunia aktivis adalah dunia idealis. Idealisme tumbuh subur menjadi elemen abstrak bernama gairah melakukan aktivitas dan perlawanan terhadap ”kemunafikan sosial”. Aktifis adalah eksekutor yang memiliki tanggung jawab yang lebih dari masyarakat umum karena posisinya yang lebih intens menjamah sumber-sumber pencerahan dan informasi publik, sehingga ia tidak saja berperan sebagai ”agen perubahan” an sich menjadi ”pengarah perubahan”. Disinilah para aktifis berperan seolah ”anjing penjaga” (wacthdog) yang setiap waktu akan selau ”menggonggong” untuk sekedar mengingatkan ataupun ”menggigit” terhadap para penguasa yang tidak patuh pada tuannya (baca: rakyat).
Namun perlu disadari, bahwa perjuangan untuk menegakan kebenaran dan keadilan tidaklah berjalan dengan mulus, selalu ada kerikil dan duri yang menjadi hambatan. Ada pihak yang tidak senang dan ”terganggu, sehingga ia berusaha untuk menghentikan ”aksi moral” tersebut. Maka sebenarnya perjuangan aktivis kebenaran tidak saja mempertaruhkan idealismenya semata, juga merupakan pertaruhan nyawa.

Lingkup terkecil saja, dunia aktifis mahasiswa tidak terlepas dari sikap teror dan intimidasi. Aktifis mahasiswa yang sedikit vokal dan lantang mengkritisi kebijakan serta ketimpangan di kampusnya, terkadang diancam lewat jalur akademis. Entah proses perkuliahannya akan dipersulit, atau ujiannya tidak akan diluluskan, dan sebagainya.

Dalam lingkup kehidupan politik berbangsa dan bernegara, tak jarang para aktivis kebenaran mendapatkan teror dan intimidasi. Ingatan kita masih segar, bagaimana (alm) Munir yang meninggal karena diracun. Sebab banyak pihak yang merasa ”terusik” dengan perjuangan beliau yang sangat frontal memperjuangkan penegakan hak asasi manusia (HAM).

Ada beberapa hikmah yang bisa kita jadikan pelajaran dari kejadian yang menimpa aktivis ICW dan Koran Tempo tersebut. Pertama, saya menyakini bahwa aksi teror dan intimidasi tersebut bukan semakin menciutkan dan matinya gerakan advokasi dan perjuangan kebenaran. Justru malah sebaliknya, akan semakin masif dan agresifnya proses perjuangan tersebut. Meminjam terminologi dalam dunia persilatan Thie Khie I Beng, ilmu yang bisa menyedot kekuatan lawan. Bahwa, setiap tekanan dan pukulan yang dilancarkan kepada para aktivis, bukannya menghancurkan, tetapi justru akan menambah kekuatan mereka.

Kedua, negara harus menjamin perlindungan dan kemanan bagi setiap warga negara, terutama para aktifis kebenaran. Dengan cara menguatkan peranan Perlindungan Saksi Dan Korban (LPSK). LPSK harus diberi kewenangan lebih untuk pro aktif “menjemput bola” bagi para korban dan saksi untuk berusaha menawarkan perlindungan. Sebab selama ini LPSK hanya “menunggu bola” untuk melakukan perlindungan.

Ketiga, pengusutan kasus ini harus benar-benar komprehensif dan terbuka. Siapa aktor dibalik aksi teror tersebut? Bukan rahasia umum lagi, opini yang berkembang di masyarakat bahwa peristiwa tersebut terkait dengan lembaga Polri. Kepolisian sebagai institusi pelindung dan pengayom masyarakat harus benar-benar serius mengusut kasus ini.

Bagaimanapun perjuangan para aktifis kebenaran ini sangatlah mulia. Mereka senantiasa menjadi garda terdepan (avant garde) dalam konteks perubahan sosial dan reformasi bangsa yang konstruktif bagi masa depan. Mudah-mudahan kejadian ini dijadikan sebagai the rallying point, yang akan menimbulkan efek solidaritas dan membentuk basis dukungan dari berbagai pihak, sehingga perjuangan untuk menegakan kebenaran dan keadilan semakin kuat. Intimidasi dan teror adalah resiko dari perjuangan. Kita yang hanya “Diam” saja mempunyai resiko apalagi berjuang.

Wallahu A’lam

* : Penulis adalah kader HMI cab. Kab. Bandung. pengurus Badko HMI Jawa Barat, peneliti pada Rausyan Fikr Insitute.

Baca Selengkapnya......

Lesunya Gerakan Mahasiswa


Oleh.Oki Sukirman Dzil-Akhwaini*

Apakabar kini gerakan mahasiswa (GM)? Sudah lama tak terdengar gebrakan-gebrakanatas nama hati nurani rakyat. Kenapa kau sudah lama absen menjadi gardaterdepan (avant garde) sebagai agent social of change dan agentsocial of contro? Kemanakah kini semangatmu yang dulu membara melawan tiranikekuasaan yang tidak berpihak kepada rakyat? Oleh sebab apa gerakanmu seolah lesudan tidak berdaya diterpa angin kekuatan politik kekuasaan yang semakin kuat ini?

Pertanyaanitulah yang mungkin hari ini muncul terhadap GM. Dalam perjalanan sejarahbangsa ini, jelaslah bahwa GM dapat menunjukkan peran strategisnya sebagaikomunitas yang mampu menjadikan dirinya sebagai instrument perubahan. Darisebelum kemerdekaan, GM senantiasa proaktif dalam memperjuangkan kemerdekaan,entah dengan mengangkat senjata langsung atau melalui gerakan-gerakan terpimpinberupa gerakan intelektual. Begitupun pasca kemerdekaan, sejak masa orde lama,orde baru hingga orde reformasi, GM tidakpernah absen dalam pembangunan mengisi kemerdekaan.

GM pada tahun 1998 (sebut saja angkatan 98) secara sosio politis peranannya samadengan generasi sebelumnya (Angkatan 1908 , 1928, 1945, 1966, 1974 dan1977/1978). Ada kesamaan yang menjadi kekuatan pendorong (driving force) dari gerakan-gerakan mahasiswa di setiap angkatantersebut yakni pergerakan mahasiswa selalu muncul dalam situasi dan kondisiyang ditandai oleh terjadinya masalah besar yang dampaknya dirasakan olehseluruh masyarakat.

Lalubagaimana hari ini? Rupanya setelah GM pada tahun 1998 yang berhasil menggulingkanorde baru, GM seolah tenggelam entah ke mana dan menjadi lesu. Apakah GM tidaktergugah oleh ketimpangan social yang semakin meraja lela. Ketidakadilan yang sudahsemakin telanjang di mata rakyat. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidakberpihak kepada rakyat.

Bagaimanapun (pasti) selalu ada kekuatan yang melemahkan gerakan mahasiswa baik dulu ataupunkini, sehingga menyebabkan GM lesu, melempem bahkan tenggelam. Sayamenganalisis, terjadi kelesuan tersebut disebabkan oleh dua faktor, faktorinternal dan eksternal.

Faktor nternal dari lesunya GM. Pertama, kealpaan kaderisasi pada GM di setiaporganisasi. Bukan rahasia umum lagi bahwa hari ini organisasi-organisasi besaryang dahulunya menjadi penggerak GM seperti HMI, KAMMI, PMII, GMNI, PMKRI danlain sebagainya, hari ini tidak lagi "seksi" dan tidak menjadi pilihan bagimahasiswa. Mahasiswa baru khususnya, sepertinya ogah untuk berorganisasi,paradigma yang muncul cukuplah menjadi "mahasiswa kupu-kupu" (kuliahpulang-kuliah pulang) agar cepat selesai kuliah atau menjadi "mahasiswa kunang-kunang"(kuliah nangkring-kuliah nangkring) hanya untuk kesenangan. Impilkasinya sangatbesar, banyak organisasi yang sejatinya menjadi incubator dalam membentukmahasiswa sebagai agent perubah, justru lesu dan tenggelam karena kekurangankader penerus.

Kedua,budaya organisasi yang sangat rendah. Faktor kedisiplinan setiap insaneorganisasi; ketidaktepatan waktu, buruknya tata kelola administrasi, hingga miskinnyakegiatan-kegiatan dalam mengembangkan nuansa intelektual, merupakan penyebabdari lesunya GM. Sebab bagaimanapun sebuah organisasi tidak mungkin menjadi "kawahcandradimuka" bagi mahasiswa mana kala budaya kedisiplinan yang dibangun dalamorganisasi tersebut sangat kurang.

Selain faktor internal, juga faktor eksternal. Pertama, semakin kuatnya arus globalisasidengan faham kapitalisme dan materialisme. Kita lihat bagaimana orientasiperkuliahan di kampus-kampus hari ini, yang hanya bertumpu pemenuhan kebutuhanpasar. Hal ini menyebabkan GM menjadi "barang yang langka" di kampus-kampusbesar. Banyak mahasiswa merasa sia-sia jika masuk organisasi sebab kebutuhanpasar akan kompetensi profesionalisme tidak akan didapat melalui organisasi,sehingga mahasiswa lebih tertarik pada orientasi berbasis profit dan kegiatan-kegiatanpenunjang perkuliahannya, seperti kursus dan magang.

Selainitu juga, karena faham kapitalisme dan materialisme itulah terjadi hegemonihedonisme yang menyebabkan mahasiswa lebih memilih "zona nyaman" hanya sebagai mahasiswa"biasa". Potret mahasiswa kunang-kunang itulah yang terjangkit oleh hegemonihedonisme. Mereka ingin menikmati masamuda dengan berfoya-foya dan kesenangan belaka, sambil berharap tua kaya rayadan mati masuk surga.

RedesainGerakan Mahasiswa

Olehkarenanya dalam perspektif saya, GM perlu diberi suntikan "obat kuat" agarkembali bergeliat dan maju ke depan sebagai pelopor perubahan dalam melawanketidakadilan. Perlu ada upaya mendesain kembali (redesain) GM. Tentunya GM iniharuslah di mulai dari organisasi-organisasi kemahasiswaan yang ada hari ini.

Sepertiterurai dari beberapa factor internal dan eksternal di atas, ke depannyaorganisasi mahasiswa harus menjadi organisasi yang modern, yang mampu menjawabkebutuhan mahasiswa sambil tetap menjaga kemurniaan idealisme organisasitersebut. Dan kemurniaan organisasi mahasiswa dapat terjaga manakala ideologiyang menjadi "kompas" sebuah organisasi dapat terjaga dan dipegang teguh. Sebabideologilah yang menjadi "obat kuat" dan pemicu untuk kembali menggeliat,bergerak dan melawan. Jika tidak demikian, maka gerakan mahasiswa hanya tinggalmenunggu waktu untuk punah, tergerus bersama waktu. Tentu, semoga tidak.

*Penulis adalah Kader HMI Kab. Bandung. Pengurus Badan Koordinasi (Badko) HMI Jawa Barat. Pegiat RausyanFikr Insitute (Rafik Insitute).

Baca Selengkapnya......

Sunday, March 28, 2010

Pusgit, 18/03
Ketua Umum HMI Cabang Kabupaten Bandung Asep Mahmud Yusuf, tengah memberikan sambutan pada acara Olimpiade HmI cabang kabupaten bandung.



Baca Selengkapnya......

Sunday, July 5, 2009

PENGUMUMAN

PENGUMUMAN...

Kepada seluruh kader HMI Khususnya Cabang Kab. Bandung, ayo bergabung di Grup Fecebook nya HMI Kab. Bandung....

Trimzz


Baca Selengkapnya......

Friday, July 3, 2009

“MAHASISWA DAN NILAI IDEALISME”

(Analisis terhadap realita Kampus)

Oleh : KAHPIANA[*]

Mapannya arus modernis telah menjadi jargon yang melemahkan kaum muda termasuk didalamnya Mahasiswa. Masuknya zaman globalisasi mengantarkan masyarakat kampus tertidur oleh kemapananya. Ditinjau dari analisis hari ini menjadi hipotesis penulis, bahwa Mahasiswa hari banyak mengalami kemerosotan dari segala apapun, baik dari segi moral, dehedrasi spiritual, ataupun kemapanan intelektual. Organisasi Mahasiswa baik intern maupun eksteren yang diharapkan mampu menjadi ruang gerak mahasiswa, tapi hari ini system kampus sudah membatasinya. Pedahal saya disanalah yang akan memunculkan ide-ide perubahan.

Murahnya harga diri Mahasiswa dari mata public adalah ancaman besar bagi kita yang akan menjadikan krisis kepercayaan bagi masyarakat,. Terhegemoninya pola pikir Mahasiswa oleh system kampus, atau mungkin tergerus oleh zaman akan menjadikan bangsa ini semakin terpuruk, kita perhatikan dalam forum-forum intelektual Mahasiswa jarang sekali hadir didalamnya. Akankah kita akan seperti ini?. Dan yang ngerinya lagi Mahasiswa hanya disibukan oleh tugas-tugas kampus saja, ini menunjukan bahwa mahasiswa kita digiring untuk menjadi mahasiswa yang oportunis terhadap permasalahan baik itu kebangsaan, keumatan dll.

Belum lagi kita berbicara Nilai Idealisme yang hari ini tidak lagi terdengar dalam diri Mahasiswa.dan itu seharusnya nilai itu menjadi harga mati bagi Mahasiswa. Kita lihat Gerakan murni yang lahir seringkali tercemari oleh pelacur kekuasaan, kacung politik, diakui atau tidak ini adalah realita saya sering melihatnya. Penulis pikir perubahan ini harus bersama kita lakukan, mulai dari pejabat kampus yang didalamnya_Rektor, Dekan, dan para Dosen_kampus sampai Mahasiswa jika kita memang menginginkan adanya suatu perubahan. Kalau memang kita enjoy dengan keadaan seperti ini.ya kita semua akan terus-terusan tidak merasakan kenyamanan belajar disini.!!!!!!!!!!!!

Penulis satu bulan kebelakang menganalisis para dosen pada PBM, dari empat pertemuan hanya dua bahkan satu kali pertemuan saja dosen bisa masuk, dengan berbagai macam alasan yang dilontarkan, Ini sebenarnya klasik tapi kalu tetap dibiarkan kami Mahasiswa juga tidak bisa nyaman belajar disini. Mengerikan sekali kampus kita ini. Saya sering terfikirkan ketika belajar dalam kelas, si dosen menerangkan konsep ideal tentang pendidikan yang didalamnya (Kurikulum, Administrasi, sarana prasarana, dll) tapi ketika saya melihat realita kampus kita ini jauh dari konsep ideal yang diterangkan oleh dosen. Belum lagi yang kerjanya hanya memakan gaji buta. Saya fikir Mahasiswa fakultas Tarbiyah jangan hanya diam, ketika ada sesuatu yang janggal mari kita selesaikan bersama, kita ingatkan bersama agar kita semua tidak menjadi orang yang dzolim dan terdzolimi oleh system kampus. Ini otokritik bagi kita semua. Penulis teringat dengan teori pendidikan madzhab kritis, bahwa pendidikan adalah sebuah penyempurnaan agar manusia itu tidak terbodohi dengan proses belajar mengajar (PBM), yang sehingga manusia itu akan terus diam saja melihat sebuah ketidak benaran.

Jadi kalu jita perhatikan bersama antara Nilai Idealisme dan Mahasiswa adalah dua mata koin yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainya. Jika mahasiswa sudah tidak lagi menjaga nilai Independensi maka kita terkalahkan oleh kaum TUA. Yang hanya menjadikan kita kacung-kacung kepentingan pribadinya.

Bangun mahasiswa Indonesia kau telah tertidur panjang, apakah kau menutup mata melihat keterpurukan di lingkunganmu, apakah kau takut untuk melakukanya, kita adalah pengarah bangsa ini, kita punya sebuah nilai kejujuran nilai yang tidak bisa terjual oleh harga nominal. Terlalu sayang kau tinggalkan masa kejayaanmu sebagai mahasiswa jika kau gadaikan demi pelacur kekeuasaan, dank au jual Nilai Idealisme dengan harga Nominal.



[*] Penulis adalah ketum HMI KOMTAR 2008-2009.



Baca Selengkapnya......

TERMENUNG AKU DALAM REALITAS YANG TAK PASTI.

Oleh ; Kahpiana[*]

Aku melihat realitas disekitarku, bising mendengar dengan suatu yang namanya perubahan, entah mengapa?, apakah mereka takut dengan ancaman pada mereka, ataukah mereka tak mau perubahan dan nyaman dengan keadaannya.

Kita adalah penggerak atas semuanya, tapi terkadang kita tidak tau bahwa kita adalah penggerak itu, dan kita bingung mau kemana kita akan melangkah, dan kita mati langkah dengan suatu dogma yang membelanggu cara pandang kita baik budaya, norma dan bahkan agama. Kita tau di rezim orla (orde lama), orba (orde baru) banyak mereka yang diuntungkan dengan tindakanya yang oportunis mereka manut, patut, tapi tidak bebas, tapi sedikit bagi mereka yang revolusioner mengangkat suatu yang menengtang ketika zaman itu mereka dibuang, dipenjarakan dan bahkan mereka dibunuh salah satu contohnya Pramudia A Toer, Tan malaka, Rivai apin dll. Demikianpun sekarang ini zaman orde yang paling baru (Reformasi) yang menganut faham katanya democrasi masih banyak Politik Tajug bercokolan dimana-mana. Kekuasaan ditangan rakyat yang sering kita dengungkan laksana kapal air yang tanpa nahkodanya. Kebesasan yang sering kita degungkan menjadikan alat bagi kita melakukan salahkaprah. Kekuasaan sampai kapanpun menjadi suatu rebutan para elite kita.

Menghadapi kampanye pilpres yang namanya kemiskinan, pendidikan, pengangguran dll menjadi bahan pembicaraan kampanye para elite. Parpol berideologi manapun pasti tak kalah bualanya, baik yang berbau nasionalis, agamis bahkan nasionalis maupun agamis pun demikian. Hari ini rakyat kita telah dibodohkan oleh suatu gerakan yang sering mengatas namakan gerakan SOSDEMPRAK (sosialis demokrasi kerakyatan). Tapi tidak pernah sama sekali parpol kita mengajarkan pendidikan politik pada rakyat, bagaimana rakyat kita menghasilkan hidup yang layak toh pada akhirnya suatu ruang pendidikan politik tidak diberikan, rakyat kita sama sekali tidak diberi kesadaran akan suatu manisfestasi kehidupan democarsi yang dimana menjadikian cara pandang mereka rasional, objektif, dan egaliter dan itulah ciri masyarakat system Negara democrasi. Kita lihat banyak elite kita secara jelas ketika zaman orba melakukan suatu gerakan yang melanggrar HAM, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme tapi hari ini mereka dengan leluasa mencalonkan pemimpin bangsa ini. Ini maksud saya rakyat tidak mendapat kesadaran untuk menilai secara objrktif memilih dan menentukan pemimpinya.

Aku heran sepertinya dengan tatanan kehidupan bernagara di bumiputra ini, masih ada elite yang merauk uang negara untuk kepentingan pribadi, pusing rasanya semakin hari semakin banyak yang aku tau, kejanggalan realitas disekitar menjadikan aku tak mau diam saja yang ada dihatiku adalah REVOLUSI, sudah saat kita perbincangkan tentang arah bangsa ini kedepan, sebab kalau hari ini turunan orba, orla masih bercokol di kursi pemerintahan ini berbahaya bagi bangsa. Kepentingan pribadi dan kelompok kita redam dulu sebaiknya kita bersatu dalam nuansa kehidupan yang bersatu menjadi tubuh yang bertajuk PERUBAHAN.

REVOLUSI ITU MENCIPTAKAN !!

(Tan Malaka)

*Penulis adalah ketum HMI KOMTAR 2008-2009





Baca Selengkapnya......

Thursday, June 25, 2009

Tanggapan Tentang Tulisan HTI

Liberalisme HMI

" tulisan ini di dapat dari http://hizbut-tahrir.or.id/2009/05/14/liberalisme-hmi/ "

Sebuah kesimpulan yang tak beralasan karena berangkat dari sebuah kekritisan kader HMI di sebuah training di Tasikmalaya, Jawa Barat

Saya tidak setuju syariah!” teriak salah seorang peserta sambil berdiri.

“Tahukah saudara-saudara, salah satu hukum syariah adalah potong tangan. Saya tidak mau dipotong tangannya.”

Lalu berdiri juga seorang peserta, “Saya juga tidak setuju.” Tak terduga, sesaat kemudian tindakan itu diikuti oleh hampir seluruh peserta yang juga sambil berdiri menyatakan ketidaksetujuannya terhadap ide penerapan syariah yang disampaikan oleh Jubir HTI.

Siapa mereka? Jangan salah, mereka bukanlah non-Muslim. Mereka adalah peserta Training LK (Latihan Kader) II HMI beberapa waktu lalu. Ini adalah forum training lanjutan tingkat nasional yang diikuti oleh kader-kader HMI dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Kali itu diselenggarakan di Kota Tasikmalaya.

Reaksi semacam ini tentu sangat mengejutkan. Bagaimana mungkin kader HMI menolak syariah?

Mereka umumnya menolak mentah-mentah ide khilafah. Itu dikatakan sebagai ide yang absurd, tidak jelas dan utopis. Mereka menilai, demokrasi tetaplah yang terbaik. “HTI beruntung dengan demokrasi. Semasa Soeharto, HTI tidak dapat hidup. Maka, HTI harus berterima kasih pada demokrasi,” cetus salah seorang peserta.

Ada juga peserta yang setuju syariah, tetapi tetap menolak ide khilafah. “Saya setuju syariah diterapkan. Tapi tidak setuju khilafah karena banyak perbedaan, banyak mazhab yang masing-masing akan mempertahankan pendapatnya sehingga terjadi perpecahan,” kata Mahrus, peserta dari Cilegon.

Senada dengan Mahrus, Ahmad Faiz juga menyatakan setuju syariah, tetapi khilafah tidak. Lagi pula, katanya, khilafah menurut siapa? “Apa mungkin umat Islam hidup dalam satu pemimpin?” tanyanya ragu. Di dalam al Quran, menurutnya, juga tidak ada perintah untuk mendirikan Khilafah. Dulu yang ada adalah kerajaan. Tidak ada konsep khilafah.

Soal ketakutan bahwa ide khilafah bakal menimbulkan persoalan, diungkap juga oleh Zulham, peserta dari Kendari. “Secara pribadi saya setuju. Tapi saya menilai dari internal umat bakal akan ada perlawanan. Dengan kondisi bangsa yang beragam, apa ide itu bisa diterapkan? Apa bukan akan menimbulkan benturan?”

Memang, peserta melihat bahwa antara khilafah dan demokrasi tidak dapat dipertemukan. Menurut Samsulhadi, peserta dari Lombok, tata kenegaraan yang ada harus didekonstruksi, karena akan benturan dengan ide syariah dan khilafah.

Mereka juga mempertanyakan kelayakan syariah untuk diterapkan di Indonesia. “Syariah apa cocok untuk Indonesia yang heterogen?” tanya Rake, peserta dari Semarang.

Hal serupa diungkap oleh Ali Muhson, peserta dari Jawa Timur. Sama dengan pemikiran tokoh-tokoh Islam liberal, mereka setuju syariah, tetapi hanya sebatas nilai-nilainya saja. Misalnya, nilai keadilan. Tidak perlu menggunakan label Islam.

Sesungguhnya konsep khilafah bukan saja sudah ada, bahkan juga sangat jelas. Puluhan buku telah ditulis oleh para ulama pada masa lalu tentang masalah ini. Buku-buku seperti Al-Ahkam as-Sulthâniyah karya al-Mawardi atau Abu Ya’la, juga Siyâsah Syar’iyyah-nya Ibnu Taimiyyah, apalagi kitab Nizhâm al-Hukmi fî al-Islâm karya Syaikh Taqiyyudin an-Nabhani mampu menggambarkan dengan sangat gamblang konsep khilafah. Mungkin saja ada perbedaan di antara para ulama tentang konsep detilnya, tetapi konsep-konsep dasar utamanya mengenai prinsip kedaulatan (as-siyâdah), kekuasaan (al-sulthah), kesatuan kepemimpinan dan hak tabanni pada khalifah, pastilah sama meski dalam buku-buku itu dibahas dalam istilah yang berbeda-beda. Karena itu, tidak perlu dikhawatirkan adanya perbedaan konsep, apalagi dikhawatirkan bakal munculnya kekacauan atau perpecahan. Lagi pula, fakta sejarah menunjukkan, konsep khilafah itu bisa diterapkan dengan baik. Menurut para sejarahwan, paling sedikit selama 700 tahun dari era kejayaan Islam disebut sebagai the golden age.

Soal pluralitas atau heterogenitas Indonesia tidaklah semestinya menjadi penghalang untuk penerapan syariah, karena memang Islam dengan syariahnya tidak hanya diturunkan untuk umat Islam saja. Menurut al-Quran, Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia sehingga syariah Islam yang dibawa oleh Rasulullah juga berlaku untuk Muslim maupun non-Muslim. Bagaimana teknisnya? Dalam kehidupan pribadi, menyangkut masalah akidah/keyakinan serta ibadah, makanan, minuman dan pakaian tiap orang diberi kebebasan untuk memprkatikannya sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing. Namun, dalam kehidupan publik, menyangkut aspek ekonomi, politik, sosial, budaya dan pendidikan, serta hukum dan sanksi, syariah Islam berlaku atas semuanya, baik atas Muslim maupun non-Muslim. Ketika misalnya pendidikan diselenggarakan tanpa biaya, maka ini berlaku untuk Muslim dan non-Muslim. Ketika seorang non-Muslim membunuh Muslim tanpa alasan yang benar, maka ia akan dihukum sebagaimana ketika Muslim membunuh non-Muslim tanpa alasan yang benar. Demikianlah Islam mengatur masyarakat heterogen dengan syariah. Kemampuan Islam mengatur masyarakat semacam itu telah terbukti dalam sejarah. Bahkan bisa dikatakan seluruh masyarakat Islam di masa lalu adalah heterogen.

Tentang hukum potong tangan, yang dipertanyakan dalam LK II HMI di Tasikmalaya, dijelaskan bahwa itu adalah bagian dari ‘uqûbât atau sanksi dalam Islam. Setiap pelanggaran terhadap ketentuan hukum syariah disebut sebagai jarîmah atau kejahatan. Setiap jarîmah pasti akan dikenai hukum atau diberi sanksi. Orang yang terbukti mencuri lebih dari seperempat dinar, misalnya, akan dipotong tangannya.

Benar, ‘uqûbât dalam Islam memang tampak sangat keras, dan mungkin membuat kebanyakan orang merasa sangat ngeri sehingga akan cenderung menolak. Namun, jika dipahami dengan sungguh-sungguh, nyatalah bahwa ‘uqûbât itu sesungguhnya memiliki falsafah yang luar biasa mulia. ‘Uqûbât dalam Islam berfungsi sebagai zawâjir (pencegah) dan jawâbir (penebus). Pada masa Nabi saw., ada seorang seperti al-Ghamidiyah dan Maiz bin Malik yang ngotot untuk mendapatkan hukuman rajam atas kekhilafan mereka berzina. Mengapa mereka bersikeras menuntut rajam? Mereka sadar benar, hanya dengan cara menerima hukuman sesuai dengan ketentuan syariah sajalah mereka akan terbebas dari hukuman di akhirat yang jauh lebih keras daripada hukuman di dunia.

Secara empirik, hukum sekular telah gagal mencegah terjadinya kejahatan. Ini terbukti dari terus meningkatnya kualitas dan kuantitas kejahatan dari waktu ke waktu. Hukum sekular itu tentu juga tidak akan bisa berfungsi sama sekali sebagai penebus terhadap siksa di akhirat. Karenanya, dengan hukum sekular itu sebenarnya tidak ada satu pun pihak yang diuntungkan. Masyarakat tidak diuntungkan karena harta, jiwa dan kehormatan mereka tidak terlindungi. Pemerintah juga tidak diuntungkan karena kualitas dan kuantitas kejahatan terus meningkat sehingga menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Penjara yang ada pun tidak lagi mampu menampung para penjahat. Yang pasti, hukum sekular tidak menguntungkan pelaku kejahatan karena hukuman itu tidak bisa menjadi penebus buat hukuman di akhirat kelak.

“Bila tidak ada yang diuntungkan, mengapa kita masih saja terus mempertahankan hukum semacam ini?” sergah Jubir HTI di akhir penjelasannnya.

Tanpa menunggu reaksi lebih lama, Jubir HTI dengan agak sedikit berdiri lantas menggebrak keras meja di depannya. Setengah berteriak ia mengatakan, “Siapa sekarang yang tetap tidak setuju syariah?”

Seluruh peserta LK II HMI di Tasikmalaya diam membisu. Tidak ada satu pun yang bersuara. Semua tampak diam menunduk. Tiba-tiba, ada satu peserta berdiri sambil menunjukkan jari berkata, “Saya setuju.” Tak berapa lama, berdiri lagi satu peserta, “Saya juga setuju.” Lalu segera diikuti oleh hampir seluruh peserta, “Kami setuju! Kami setuju!” “Allahu Akbar….!!!”

Suara takbir segera memenuhi ruangan training yang tidak terlalu besar itu. Subhanallah, mereka cepat sekali bisa berubah. Ternyata, penolakan dan persetujuan hanya dibatasi oleh penjelasan.

Usai acara, peserta beramai-ramai minta foto bersama. Ketika acara pemberian cindera mata hendak dilakukan, peserta berebut ingin menyerahkannya kepada Jubir HTI. Akhirnya, Jubir HTI minta cindera itu diletakkan saja di atas nampan, dan peserta bersama-sama membawa nampan itu ke depan. Jubir lantas mengambil cindera mata yang diletakkan di atas nampan itu.

Di sinilah pentingnya dakwah fikriyah dan dakwah siyâsiyah yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia secara konsisten kepada semua lapisan umat. [Kantor Jubir HTI-Jakarta].


Mohon Tanggapannya....

By : Jatnika Sadili

Baca Selengkapnya......
 
@Copyright © 2007 Depkoinfokom HMI Design by Boelldzh
sported by HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Kabupaten Bandung
Pusgit (Pusat Kegiatan) HMI Jl.Permai V Cibiru Bandung 40614
email;hmi[DOT]kab[DOT]bdg[ET]gmail[DOT]com